Okty Budiati dan Psikosomatik Project

Fragile, merupakan sebuah karya repertoar oleh Okty Budiati. Pertama dipentaskan pada tahun 2005 di Jogjakarta (Kedai Kebun Forum) dan Solo (Forum Tari Bulan Ganjil [FTBG] Taman Budaya Surakarta). Kemudian beberapa kali dipentaskan kembali dalam beberapa forum. Dan adalah sebagai hasil final (menurut Okty sendiri), pementasan terakhir pada April 2007 di Japan Foundation Jakarta.

Dalam beberapa pertunjukan sebelum tahun 2007, Fragile hadir sebagai karya tari yang minimalis dan cukup konvensional. Penari berdiri di atas papan bundar dengan garis tengah sepanjang 2 m serta tinggi sekitar 30 cm.

Fragile terkesan sangat konvensional, dalam artian sebagaimana umumnya tari yang kita pahami. Gerakan-gerakan yang ditampilkan berporos pada bentuk-bentuk yang khas dan ketat, yang orang awam pun tahu bahwa itu adalah gerakan tari. Ploting juga terangkai sangat jelas. Peralihan antara klimaks dan anti klimaks cukup kontras tanpa ketersediaan jembatan yang cukup menyegarkan bagi logika. Klimaks tampil dengan gerak chaos berputar yang cepat, terjatuh, bergulingan dan terbaring. Jembatan menuju antiklimaks, penari mulai merangkak perlahan-lahan. Sedang anti klimaksnya sendiri: penari mulai berdiri kembali di posisi semula, dengan gerak yang lembut, mulai tertata, santun dan beradab. Kita mendapati beberapa pengadeganan gerak tanpa sempat merasakan motifnya lebih dalam.

Seluruh tubuh penari dibalut oleh gaun berwarna putih yang mencirikan keanggunan dari masa lampau. Tubuhnya menjadi sangat stereotip sebagai sosok perempuan. Dialektika datang hanya dari luar tubuh yang dibalut oleh gaun putih masa lampau itu. Mungkin tentang seorang perempuan yang dirundung malang namun berakhir bahagia jua. Melankolia yang kuat ini membuat mata terkantuk-kantuk menontonnya, bagi yang tidak terbiasa.

Fragile, sebagai karya dengan konsep penggarapan berkelanjutan, kembali dipentaskan di Japan Foundation pertengahan tahun 2007 ini. Selanjutnya kita ulas hanya pementasan terakhir ini yang jauh berbeda dari pementasan sebelumnya di tahun 2005 dan setelahnya. Setidaknya dalam hal kostum, penari melepas seluruh kostum, bertelanjang mengandalkan kulit tubuhnya semata.

***

Penari memulai pertunjukan dengan berjalan lurus dari sisi ruang pertunjukan menuju panggung utama. Sorot lampu perlahan fade-in membasahi tubuh penari yang masih berdiri membelakangi. Terawang lampu yang siluet mempertegas lekukan tubuhnya. Perlahan tubuh itu mulai memutar menghadap arah panggung utama. Sedikit membungkuk dan terus saja begitu. Satu tangannya mulai menutupi bagian selangkangan. Tangan satunya lagi menjulur dan sedikit menekuk di dadanya. Penari mempertahankan posisi tubuhnya beberapa saat. Seakan bagian ini seperti sebuah persiapan akan sesuatu. Dalam posisi tadi, ia mulai berjalan pelan-pelan meninggalkan siluet cahaya.

Langkah kakinya pendek dan tidak tinggi di atas lantai. Tubuhnya yang membungkuk memberi kesan ketidakpastian. Terkadang seperti tubuh yang sedang mencari penghampiran yang lain di luar arah yang sedang dituju. Tetapi seketika itu juga seperti ada perlawanan dari bagian tubuh yang lain. Sementara perjalanan harus tetap dilakukan. Prosesi ini seakan metafor, antara yang dilakukan/gerak (das sein) dengan yang dihasrati (das sollen) dalam tubuh manusia. Satu tangan yang menutupi vagina membuat suasana menjadi minor, seperti berada dalam tekanan. Dengan sangat perlahan dan penuh getar, kepalanya semakin mendongak dan tertuju pada arah yang akan dilalui. Penonton memenuhi sisi jalan yang akan dilewati. Sementara di panggung utama telah dipajang sebuah meja berukuran besar yang disebut meja patriarki.

Beberapa kali terlihat gerak-kejut pada otot bisep di bagian sisi antara paha dan pantat penari. Apakah ini sebuah situasi yang tidak terencana ataukah memang telah terencana sebagai koreografi? (kemunculan gerak yang tidak biasa dari bagian tubuh yang juga tidak biasanya ini tentu menarik diurai lebih jauh dalam tari. Asalkan jangan terjebak hanya pada upaya atraktif semata sebagaimana sirkus).

Langkahnya seperti gemetar, sekaligus hati-hati penuh perhitungan. Di punggung telapak kaki, urat-urat juga bermunculan seakan kaki itu sedang melangkah melawan arus yang begitu kuatnya. Ketika telapak itu akan menginjak lantai, jari-jari kaki mendongak ke langit seakan menolak nasibnya. Betis penari meregang dan oleng oleh pengaruh perseteruan antara jari kaki dengan telapak kaki. Ketika kaki itu diangkat pahanya mulai pula meregang, sedikit kejang, memadat dan longgar lagi. Beberapa dari efek ini lumrah sebagai hukum fisis pada tubuh manusia yang sedang bergerak. Namun intensitasnya yang kuat dan dramatik membuat kita tidak berhenti sebatas soal kealamiahan semata, namun ada “sesuatu” disitu. (sering kali dalam berbagai seni pertunjukan, “sesuatu” ini justru menyebabkan karya menjadi berhasil).

Penari terus berjalan hingga ia sampai pada cahaya yang datang dari arah panggung. Wajahnya mulai terlihat jelas, ada suatu keprihatinan. Perlahan pula cahaya semakin menerangi seluruh bagian tubuhnya. Penonton kini bisa melihat jelas berbagai perubahan dalam air mukanya. Otot bagian atas antara payudara dan leher penari terlihat meregang keras, uratnya muncul-tenggelam mengisi tekstur bidang dada dan pangkal lehernya. Juga kejutan di kepala yang kadang tertekuk pelan, bibirnya bergetar tipis, sebagian jari-jari seperti mau terlepas saking rapuhnya.

Dengan adanya pergerakan dari berbagai belahan otot, tubuh seperti sedang mengembangkan tumpuan baru yang lebih subtil ketimbang anatomi. Bahkan pori-pori seakan ikut dieksplorasi disini dengan regang naik turun pada seluruh kulit beserta keringatnya yang membias pada sisa cahaya. Dengan cahaya yang semakin penuh, penonton dapat menelisik bagian mana yang paling berkeringat di tubuhnya.

Suasana ini terus bertahan dan belum bisa dijelaskan teror apa yang sedang dimainkan. Yang pasti semua merasakan ada sesuatu yang sedang mengiris di hati kita. Sesuatu yang sedang membuat sayatan-sayatan pada tubuh. Efektifitas pertunjukan yang minimalis ini semakin maksimal.

Dalam suatu cara bisa dikatakan bahwa si penari sedang membelah ruang, dan menyatakan adanya konflik dalam keterbelahan itu. Hasilnya memperlihatkan adanya ruang dalam yang terbuka dan ruang terbuka yang sedang menutup diri. Ruang dalam adalah kulit beserta memori tubuh penari yang telah terbagi antara anatomi (das sein) dan belahan otot (das sollen). Memori yang berasal dari das sollen sesekali meletup kecil, secara tiba-tiba, kemudian mengungkai gerak langkah kaki penari (anatomi/das sein). Begitulah seterusnya, terkadang terjadi refleks (pada kaki) yang sepertinya tidak datang dari fungsi anatomi, namun dari ketegangan psikis ruang yang ada. Kadang pijakan telapak kaki penari seperti sedang menginjak paku. Sakit dan pilu.

Penari membelah ruang dalamnya dengan menghadirkan keutuhan tubuhnya sebagai apa adanya (telanjang) dengan mata pisau pembelah adalah penglihatan penonton yang bermodalkan kesadaran beserta persepsi individual maupun kolektif. Ruang dalam penari menjadi ruang terbuka yang dicerap bersama-sama. Sebelumnya hal beginian adalah tabu. Ruang dalam adalah ruang privat yang harus menjadi rahasia. Sehingga di permukaan situasi ini bisa saja disalah-artikan sebagai pemberontakan pada tabu. Atau sebuah ajakan agar tidak menjadi klise.

Sedangkan ruang terbuka yang sedang menutup diri adalah segenap kesadaran kolektif yang dibawa penonton memasuki gedung pertunjukan namun tidak pernah bisa dipastikan seperti apakah persisnya. Kesadaran kolektif ini sering diulas dan dilembagakan ke dalam diri individu malalui sekolah-sekolah, media massa, rumah ibadah, penjara, areal pemakaman, dan berbagai lembaga kolektif lainnya, sebagai hal yang lazim, lumrah, seharusnya, sewajarnya, sehingga terbuka (common sense). Namun kenyataannya, kita tidak bisa melacak dalam diri setiap individu yang berkumpul menjadi kolektifitas penonton itu bagaimanakah kesadaran kolektif itu mereka benturkan dengan kejadian panggung yang sedang dicerapnya (sebagaimana tidak terduganya suatu masyarakat yang baik budi tiba-tiba membakar seorang maling celana kolor).

Dalam cara lain, kita tidak pernah bisa menuntaskan kolektifitas sebagai kualitas yang pasti, kecuali hanya sebatas kuantitas, menjadi semu dan rada absurd. Karena kecurigaannya adalah: ketika penonton mampu menyaksikan pertunjukan ini hingga selesai, jangan-jangan tidak lagi dengan mediasi kesadaran kolektif tadi namun mulai kembali kepada persepsi individualnya. Karena menurut anulir kolektif, ketelanjangan di depan umum adalah tidak wajar dan negatif, konsekwensi logisnya adalah dijauhi, dihindari, dicegah, bahkan dimusnahkan.

Setiap orang hanya mengetahui persepsinya masing-masing atas ketelanjangan si penari. Dan jika ditanyakan satu-satu, bagaimanakah benturan yang terjadi atau yang dirasakan penonton dalam pertunjukan ini. Kejadian menutup diri terjadi ketika kesimpulannya hanya tersimpan dalam diri masing-masing. Biasanya ada ketakutan, jika kesimpulan menyangkut hal yang krusial seperti ini disuarakan akan mengundang konflik dengan lembaga-lembaga kolektif tadi (sekolah, agama, negara, masyarakat, areal makam, dan seterusnya). Jadi jikapun penonton menyaksikan pertunjukan ini hingga selesai, bukan berarti ia akan membawanya pulang untuk dipajang di dinding rumah.

Tontonan ini telah menjadi pisau pembelah kesadaran kolektif dan menghamparkan potongan kesadaran itu di hadapan diri masing-masing saja. Pertunjukan memproduksi detak-denyut yang mengalir tidak hanya pada penari tetapi sampai penonton juga. Setiap individu hanya mengetahui dirinya sendiri. Mungkin ada yang jantungnya berdenyut, atau nafasnya tersengal, atau keningnya berkeringat, atau matanya memicing/membelalak, atau duduknya jadi tidak nyaman, atau serba salah dengan tangannya sendiri, atau anunya. Sebagaimana lazim, bahwa pergerakan persepsi-psikis dapat merangsang pergerakan fisis bagian-bagian tubuh tertentu. Seorang yang marah, wajahnya atau matanya menjadi merah. Seorang yang malu, telinganya menjadi merah. Seorang yang kebingungan suka menggaruk-garuk kepala tanpa ada rasa gatal. Dan seterusnya, seorang lelaki yang terangsang birahi, otot reproduksinya bereaksi.

Dalam pertunjukan ini semua saling menahan reaksi spontannya, sebagai tekanan yang berawal dari kolektifitas tadi dan hasrat individualnya. Sebuah rahasia tentang bentukan kolektif dan fantasi individual. Sedang pertunjukan telah menjadi kejadian bersama, dialektika persentuhan memori tubuh secara langsung dan intuitif dalam dan antar diri setiap orang. Sehingga berdasarkan pada kejadian tubuh itu sendiri, pertunjukan ini menjadi tidak fiktif. Apa yang diceritakan bukanlah yang diterakan oleh katalog pertunjukan misalnya, namun kejadian tubuh itu sendiri di atas panggung.

Jika tubuh menuturkan (bergerak) berbeda dari kandungan motif yang ada dalam diri, maka tubuh itu akan kesakitan. Lebih jauh dapat merubah gugus medan perseptifnya sendiri. Sebagian penonton mungkin melakukan upaya begini. Berusaha menuturkan gerak tubuh yang berbeda dari motif yang sesungguhnya, maka tontonan ini jadi menyakitkan. Begitu pula bagi si penari dalam setiap pertunjukannya. Namun sebagian yang lain mungkin telah terbiasa kompromis pada tubuh dan hasratnya. Yaitu antara medan perseptif yang berasal dari pengalaman tubuh dan kognisi, serta antara hal yang individual dan kolektif.

Psikis dapat mempengaruhi fisis, begitu pula sebaliknya. Namun dalam anggapan dominan, lebih sering kita mengira psikislah yang lebih banyak berperan sebagai awal mula. Dalam Fragile, hal ini seperti dibalik, seakan dari fisis coba mempengaruhi psikis. Pergerakan penari melakukan pembelahan seakan menjadi sebuah upaya fisis untuk memberi stimulus tertentu ke dalam psikisnya. Dan tentu saja ada perlawanan balik dari psikis ketika ditekan oleh fisis. Sebagaimana terjelaskan sebelum ini, kerap terjadi goncangan dalam tubuh penari, sesuatu yang memperlihatkan friksi antara anatomi dan belahan otot.

Anatomi bergerak jelas pada suatu tujuan meja patriarki yang berada di ujung jalan. Sedangkan gerak kejut belahan otot menjadi hal yang selalu mencuri perhatian sehingga mengotori kesemampaian gerak langkah menuju meja tersebut. Hal ini bisa dibaca sebagai; bahwa anatomi merupakan representasi dari dunia fisis yang siklis, dan belahan otot sebagai representasi dunia psikis yang dinamis.

Gerak anatomi datang dari luar, dari kolektifitas, dari bahasa yang mediasinya melalui kognisi. Sedangkan gerak belahan otot adalah hal yang datang dari dalam diri penari, dari psikis, dari refleks, dari hasrat apapun yang terkekang. Di tengah perjalanan, penari mengeluarkan air mata. Sulit ditebak, apakah hal ini sebagai tangisan atau bukan, ataukah karena efek benturan keras dari kedua hal tadi sebagai hal yang alamiah saja.

Dunia fisis ini, tidak sebatas pada tubuh konkrit, tetapi juga pada cara berimajinasi dan membangun persepsi. Gerak penari dengan segenap pilhan artistiknya, menjadi cara untuk memberi stimulus pada psikis penonton. Sebaliknya, penonton juga berperan besar untuk menguatkan kekuatan dunia fisis agar dapat memberi stimulus yang menembus psikis penari. Bantuan itu adalah dengan duduk tenang mengamati jalannya pertunjukan hingga selesai. Sebagaimana bisa dibayangkan, bahwa pengaruh dunia fisis ini tentunya akan jauh berbeda jika si penari mengusahakannya dalam sebuah kamar mandi, sebanyak apapun gerak yang dilakukan.

Dengan ini menjadi sedikit terjelaskan, anak judul psikosomatik project yang dicantumkan Okty Budiati menyangkut proses kreatifnya. Bahwa tari, gedung pertunjukan dan khalayak penonton menjadi media untuk memberi suatu stimulus bagi dirinya sebagai manusia biasa. Menjadi media untuk mendialogkan ruang kesadaran yang menghinggapi tubuh dan jiwanya, agar terjadi saling pengertian di antara berbagai motif kesadaran. Saya juga jadi paham maksud Okty yang sering menekankan berkali-kali, bahwa ia adalah seorang ibu rumah tangga, bukan seniman.

Kembali ke pertunjukan, sesampainya di kolong meja patriarki (panggung utama), penonton dikagetkan oleh beberapa gerakan kejut dari berbagai belahan otot dengan sentakan yang lebih tegas. Sedangkan anatomi masih gigih ingin menyatakan bentuk. Namun setiap kali akan mencapai bentuk, gerak kejut kembali mengganggu makin kuat, hingga tubuhnya goyang, terhuyung, kemudian dapat dikuasai kembali. Kegigihan anatomi terus berlanjut. Perlahan situasi tubuh semakin padu menampilkan suatu gerakan. Ketika itu gerak kejut seperti telah menjadi hal yang disadari, diterima atau kompromis terhadapnya. Maka jadilah berbagai bentuk gerak yang cukup aneh, lain dari biasanya gerak menari.

Salah satu tangannya kemudian menjulur ke udara, kadang seperti sedang berusaha mencari sangkutan pada meja patriarki. Hingga akhirnya tubuh itu terlontar dan pegas, salah satu tangannya masih menjulur ke atas, sedang bagian tubuh yang lain seperti mengalami ketidak-akuran kembali. Perlahan dan patah-patah, tubuh itu menelungkup, sedikit merayap ke sisi kaki meja, dan kemudian diam mendekap dirinya sendiri. Getar beserta gerak kejut terus saja mengiringi.

Penari diam mendekap diri, terlihat beberapa kilasan gerak di berbagai belahan punggung akibat nafas yang tersengal, beberapa belahan lain di sekitar kaki meregang, beberapa jari menjadi beku. Beberapa saat setelahnya, tubuh itu bangkit kembali dengan sangat pelan. Geraknya sedikit kompak dan pasti. Getar-getar yang biasa ada semakin berkurang. Cukup lama tubuh itu hingga mencapai posisi berdiri tegak.

Setelah tegak, ia terus berjalan meninggalkan meja patriarki dalam posisi tubuh membengkok dan kepala menunduk. Hanya beberapa langkah saja, wajahnya terbuka, tubuh bengkoknya tegak lagi. Namun yang muncul justru ironi yang sangat menghunjam. Sebuah tubuh dalam balutan anatomi yang elegan, namun dengan ekspresi yang sepertinya telah tiada. Kedua tangannya terjulur dan tidak lagi menekuk dada ataupun menutupi vagina. Pada perjalanaan akhir ini, semua bagian tubuh telah benar-benar dibukakan.

Ia berjalan kembali dengan setengah bawah tubuhnya lebih menjorok ke depan dan kepala terhuyung ke belakang. Tatapannya kosong dan nanar. Sesaat kemudian tubuhnya membengkok kembali, jika tadi punggungnya menggembung dan perutnya menekuk, sekarang sebaliknya, perutnya membusung tajam ke depan. Ekspresi di wajahnya tidak terjelaskan motifnya. Ia bukan lagi mesin atau robot, juga bukan manusia. Ia telah menjadi alien. Alien ini berjalan dalam tempo yang sedang, menyelesaikan sisa pertunjukan dengan perut membusung. Ia telah menjadi alien dengan nilai rasa yang belum dipahami manusia. Di ujung perjalanan ia terhenti, kepalanya menekuk mematah tiba-tiba.

***

Berbagai hal psikosomatik dalam pertunjukan ini terverifikasi secara individual sebagai hal intersubjektif dalam diri saya sebagai penonton. Suatu verifikasi pengalaman tubuh di hadapan kognisinya sendiri sekaligus analog bagi tubuh-tubuh lain. Saya membayangkan jikalau sayalah yang sedang menari, membandingkannya dengan apa yang saya rasakan sebagai penonton. Saya dapati, apa yang terjadi pada Okty sebagai penari sejurus dengan apa yang terjadi pada diri saya sebagai penonton. Dan tulisan ini memakai diri saya sendiri untuk memasuki diri Okty beserta penonton yang lainnya.

fragile-iv2

Okty Budiati dalam, "Fragile IV, in athmosphere", 2006.

Surya Saluang

Tulisan ini salah satu catatan dalam riset mengenai

tari kontemporer Indonesia.


About this entry