Mengapa Suparman Jadi Eksentrik?
Pada suatu kali, Jean Jacques Rousseau (awal era renaissance) seorang filosof Prancis yang dikenal eksentrik dan melankolik (juga seorang pecinta alam), mencoba untuk hidup sendirian di dalam hutan, tidak berhubungan dengan seorangpun manusia lainnya. Menurut Rosseau, ide ini didasari atas kegelisahannya atas semakin menjauhnya manusia dari kodrat alamiahnya akibat tekanan kebudayaan (sistemik). Sedangkan alam adalah sesuatu yang suci dan jujur, maka manusia hendaknya harus selalu dekat dengan alam. Dari sini kemudian berkembang hingga saat ini suatu perspektif dikotomik, mengenai nature dan culture. Menurut Rosseau, jika manusia semakin jauh dari kedekatan kepada natur, maka kultur menjadi rentan menghancurkan sistem besar kehidupan itu sendiri (ekologi universe).
Saya tidak tahu apakah Marx yang eksentrik dengan rambut dan kemiskinannya itu kemudian mengadopsi pemikiran Rosseau ini, namun Marx mengembangkan suatu tesis mengenai alienasi akibat adanya paradigma dan praktik produksi (industrialis). Sejajar dengan Rosseau, kegelisahan Marx adalah pada ketidakmampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri akibat semakin kuatnya kekuatan kolektif (sistem) yang menekan individu. Kekuatan kolektif itu adalah terbentuknya masyarakat industri yang kapitalis. Dalam masyarakat beginian, setiap orang dihargai berdasarkan kepada fungsi formalnya dalam sistem produksi yang ada. Individualisme kapitalis pada dasarnya ditegakkan dari landasan beginian. Misalnya, bahwa seseorang dihargai berkat status pekerjaannya (profesi), dan bukan karena statuta moral dan etik yang diterapkannya.
Paham profesionalisme menjadi standar baru kemanusiaan seseorang. Atas peran teknologi dan ilmu pengetahuan, terbentuklah masyarakat industri tersebut. Kolonialisme merebak demi ekspansi ekonomi dan industri yang terus berkembang. Modernitas datang dengan agitasi sebagai pembawa peradaban yang lebih maju. Seluruh dunia harus diberadabkan katanya. Teknologi menjadi ujung tombak dalam setiap perubahan-perubahan ini.
Sewaktu Rosseau mengemukakan pikiran-pikirannya mengenai keterasingan (alienasi), orang-orang disekitarnya berkomentar bahwa Rosseau terlalu perasa (melankolik). Rosseau juga dianggap setengah sakit jiwa, karena mengira alam sedang mengatakan sesuatu keperihan oleh tindakan manusia atasnya. Baru pada Marx, alienasi ditanggapi dengan lebih serius. Jika alienasi Rosseau terjadi dalam rangka melankolianya pada alam, maka pada Marx alienasi terjadi berkat alam tidak lagi melankolis bagi manusia. Dalam Marx, alam telah menjadi sekumpulan besar bahan produksi. Manusia menjadi mesinnya (buruh). Bahan bakarnya adalah penerapan sistem ekonomi nilai lebih. Dimana kesenjangan ekonomi antara pemilik modal dengan pekerja (antara upah buruh, durasi jam kerja, dan nilai jual produk) menjadi faktor kunci yang harus dikelola sebaik mungkin oleh para bourjuis. Kesenjangan ini menguntungkan para pemilik modal secara berlipatganda. Kapitalisme menjadi siklus baru manusia, suatu sistem rekaan yang tidak berorientasi pemerataan. Maka menurut Marx, revolusi proletariat (kaum buruh), harus terjadi demi pemerataan (masyarakat komunis/tanpa kelas)
Alienasi terjadi khususnya pada buruh, karena buruh tidak lagi bisa menentukan dirinya sendiri. Namun dalam kenyataan kini, alienasi menghinggapi hingga kalangan bourjuis itu sendiri, karena kepemilikan kaum bourjuis berbaris sejajar dengan kemiskinan buruh, bahwa kepemilikan, ada atau tidaknya sama-sama mendatangkan masalah. Bourjuis menjadi objek dan target dari berbagai pengaturan, regulasi, dan intervensi institusional, ketika kepemilikan materi yang terlalu banyak ada pada mereka. Sedangkan sistem ekonomi kapitalis dapat berjalan baik justru dengan penyebaran kepemilikan. Maka berlakulah pemberian utang yang ditawarkan negara kaya kepada negara miskin, agar negara miskin mampu membeli produk industri negara kaya. Dan jika negara miskin ini bubar, maka negara kaya bisa bangkrut akibat hutang yang tak kembali (apalagi kalau yang bubar itu Indonesia).
Begitulah hingga saat ini, berkat ilmu dan teknologi, dunia terus saja menjadi objek rekaan-rekaan, menjadi objek rencana-rencana strategis, objek penerapan ini-itu, objek percobaan dan eksperimen. Suatu dunia yang sepenuhnya dijadikan, dibentuk, diarahkan, oleh manusia. Bahkan kemiskinan sekalipun merupakan bentukan (dalam kasus Indonesia baca Soedjatmoko dalam analisis kemiskinannya, dalam berbagai kasus lainnya banyak disebutkan dalam wacana neo-imperialisme).
Kesadaran Teknologis dan Cita-Cita menjadi Superman
Teknologi telah menjadi kesadaran kita hari ini. Yaitu suatu kesadaran pada efektifitas, kemudahan, kecepatan, dan terbukanya berbagai batas rahasia. Kesadaran ini mengarahkan manusia agar, dan lagi-lagi, lebih dari adanya. Nietzche mensinyalir, manusia berusaha menyaingi Tuhan, bahkan Tuhan itu sendiri telah mati dibunuh manusia. Sekitar duapuluh tahun setelah Nietzche, muncullah Superman sebagai dongeng zaman baru. Dari Superman, berkembanglah dongeng-dongeng versi lain dalam berbagai bentuk dan modus yang tak kalah seru.
Nilai lebih Marx bisa terjadi berkat teknologi (masyarakat industri awal yang memproduksi barang secara massal dalam waktu singkat). Dalam kenyataan kontemporer, berbagai lebih ini semakin membumbung melingkupi segenap kehidupan manusia. Aspeknya menjadi meluas, tidak saja pada hal-hal yang material, namun juga immateri. Terjadi surplus kebudayaan dimana-mana, dalam setiap bentuknya baik negatif maupun positif. Surplus yang tidak bisa lagi diatur, tidak terbendung lagi. Hingga paradoks bermunculan dimana-mana dalam berbagai sisi kehidupan. Ketika si kaya semakin kaya, si miskin juga semakin miskin. Sementara di suatu tempat, ketika seni merupakan keagungan yang tidak bisa dikonsumsi secara massif (High Art), di tempat lain justru terlalu politis untuk dikonsumsi secara ekslusif (Pop Art). Hingga perkembangan keadaan menjadi tak terkendali lagi di berbagai lini. Manusia kehilangan kontrol atas keadaan, dan berbalik menjadi bagian dari keadaan. Manusia menjadi objek situasi, bukan lagi sebagai subjek situasi.
Krisis ekonomi global yang terjadi saat ini, ternyata hanya gara-gara kredit macet perumahan di Amerika, sebuah negara kaya yang menyimpan jutaan gelandangan; paradoks yang bertubi-tubi. Korporasi-korporasi swasta mendikte negara, ketika globalisasi menjadi kemestian ekonomi, ketika masyarakat konsumer harus dimunculkan demi tetap jalannya industri, ketika pergelaran hedonisme massif ditradisikan, ketika komodifikasi budaya yang mengarah pada tumbuhnya etos pop menjadi fenomena paling wajar.
Superman menjadi anutan baru orientasi. Manusia percaya teknologi dapat mewujudkan semuanya. Usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup berubah menjadi kebutuhan yang tak pernah selesai. Dari sini Abraham Maslow mengembangkan teori yang mengatakan bahwa kebutuhan manusia akan selalu berkembang dan tak pernah berhenti. Ketika satu kebutuhan terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan lain yang baru, begitulah seterusnya. Pandangan Maslow bercirikan linieritas; orang butuh mobil setelah mendapatkan motor, butuh pesawat terbang setelah mendapatkan mobil, dan butuh sayap Superman setelah mendapatkan pesawat terbang. Sedangkan surplus keadaan menyebabkan simulasi hasrat atas kepemilikan tak lagi linier. Kebutuhan sudah mati, yang ada adalah hasrat bebas yang tak bergantung pada linieritas kebutuhan. Jadi jangan heran, bahwa khayalan menjadi Superman bukan hanya milik orang Amerika, tetapi dengan adanya teknologi yang memudahkan informasi dan komunikasi budaya (televisi sebagai ikonnya), maka khayalan ini juga menjadi milik orang-orang di Madura, Jawa, Papua, Sumatra, bahkan sampai tempat paling terpelosok. Karena kepemilikan atas khayalan sekalipun, telah menjadi strategi penegasan harga diri, bahwa saya juga orang yang maju, modern, profesional, dan tidak katrok.
Teknologi telah menyediakan jalan, dimana aspek kepemilikan dapat diluaskan hingga pada hal-hal yang abstrak sekalipun. Keterbatasan material diatasi dengan hal-hal yang abstrak ini. Dengan handphone tertentu misalnya, seseorang ikut memiliki hal-hal lain sebagai lebih-nya (status, harga diri, prestise, dan sebagainya). Kepemilikan beginian disebut sebagai kepemilikan citra, yang menjadi jalan keluar bagi banyak pihak yang terintimidasi dalam berbagai cara dalam relasi sosialnya. Seorang pengangguran misalnya, agar harga dirinya tak terlalu jatuh, berusaha tampil lebih fashionable ketimbang seorang direktur, sampai kehabisan sisa uang di kantong, dan rokok numpang sama teman. Cara penyikapan hidup seperti ini semakin kita maklumi saat ini, dalam berbagai soal di masyarakat kita.
Wajarlah jika industri terbesar yang ada saat ini adalah industri citra (televisi, media, iklan, idol, fashion, kosmetik, dan sebagainya). Yang produksi utamanya adalah citra. Karena kebutuhan utama yang telah menjadi asasi dalam masyarakat konsumennya adalah mengkonsumsi citra.
Superman hidup dalam dunia yang sistemnya berdasarkan citraan ini. Masyarakat mengkonsumsi citraan Superman; suatu dongeng yang jalan ceritanya selalu berakhir bahagia. Suatu dunia dimana orang-orangnya menjadi kanak-kanak sepanjang hidupnya; bermimpi menjadi pahlawan, yang entah mengapa, selalu saja ketemu cewek cantik dalam usahanya membantu orang.
Urbanisasi penduduk desa ke kota, serta beralihnya kaum pemuda untuk tidak lagi mencintai pertanian misalnya, tidak sekedar merupakan persoalan ekonomi semata, dimana berlaku logika ada gula ada semut. Namun juga berkat berhasilnya kesadaran teknologis merasuki dimensi pikirnya. Kota jelas-jelas lebih memenuhi berbagai sisi efektifitas material, kecepatan dan kenyamanan hidup. Sarana untuk menjadi manusia tercepat dan tercanggih dalam segala hal. Manusia mana yang tak ingin kenyamanan dalam hidupnya? Manusia mana yang tak ingin jadi Superman yang bisa mengangkasa bebas dan ketemu cewek cantik setelah mendarat ke bumi?
Atau menjadi Syeh Puji?
Atau menjadi Syeh Puji yang selain aman secara akherat, juga bisa mengkoleksi mobil mewah dan menikahi anak di bawah umur? Ketika Superman adalah dongeng yang terlalu berselera Amerika, sedangkan Syeh Puji adalah dongeng yang sedang menjadi nyata dalam selera ala Indonesia? Selain menyata, bukankah selera begini juga lebih primordial? Lebih Indonesia, gitu? Karena menurut asumsi saya, tingkat alienasi masyarakat di dunia ketiga seperti Indonesia, dengan ikonnya adalah desa atau kampung (ikon dunia pertama adalah kota), bisa jadi jauh lebih gila dibandingkan masyarakat kota. Ini sekedar pendapat spekulatif saja, tanpa didukung riset mendalam. Mengingat desa sudah dimasuki televisi namun masih memiliki berbagai keterbatasan infrastruktur penunjang (televisi di desa bagaikan kotak pandora yang terbuka hanya sekali saja).
Isu penguatan tradisi misalnya, yang biasa didengungkan di berbagai lokalitas kecil seperti desa, pada akhirnya banyak terjebak dalam kemenduaan situasi dan obsesi. Tradisi ingin dilestarikan demi menjaga identitas dan kesadaran lokal, namun di sisi lain, pelestarian tersebut tidak berhasil menguakkan suatu sistem pengetahuan yang dapat menjawab keterbatasan sistem kesadaran teknologis. Atau, identitas tradisi ternyata dan sebenarnya, tidak menguntungkan lagi. Alhasil, kesadaran teknologis yang berujung pada pragmatisme kehidupan bisa saja terjadi secara lebih mengenaskan justru di pedesaan berkat perlindungan topeng pelestarian. Banyak desa saat ini, menjadi suatu wilayah pseudo-tradisi. Wilayah pseudo-tradisi yang katarsis setiap hari, mencipta drakula-drakula kelaparan yang selalu ingin menyerbu kota-kota besar. Ketika infrastruktur tidak mengijinkan, maka drakula-drakula ini mengubah desanya menjadi kota, dalam pengertian yang sebenarnya. Maka jangan heran jika gaya bicara lu-gue yang khas metropolis Jakarta, sekarang menjamur pula di desa-desa. Di lain tempat terdapat fenomenanya masing-masing yang unik, dalam rangka desa menjadi kota ini.
Apa yang ingin kita ulas disini adalah mengenai kesadaran palsu yang kita terima dengan senang hati. Suatu kesadaran yang muncul berkat dongeng-dongeng teknologis yang melenakan. Dongeng penaklukan atas alam dan kehidupan. Bahwa hidup bisa dibuat menjadi lebih mudah untuk semua orang dengan ilmu dan teknologi. Kenyataannya saat ini, terjadi wabah kelaparan di berbagai belahan dunia ketiga justru ketika sampah atau sisa makanan di negara-negara maju (kurang lebih 12 negara paling maju) bisa menutupi wabah kelaparan di seluruh dunia ini.
Paradoks dan kebimbangan selalu mengiringi dalam dunia dengan kesadaran palsu ini. Sebagaimana pemuda desa yang suka mejeng di perempatan kampung sambil mendengarkan syair-syair cengeng Peterpan dan d’Masiv dari ponselnya. Atau pemuda kota yang selalu kebingungan menentukan desain interior kamar tidurnya, sembari memampangkan poster besar Che Guevara di balik pintu, kemudian berciloteh manja tentang kebebasan dari atas kasurnya. Inilah suatu masa dimana pilihan didasarkan dari kenyataan yang fiktif atau kalau tidak dari dongeng yang sedang menyata; apakah jadi Superman? Atau jadi Syeh Puji? Keduanya enak. Yang satu gaya Amerika, satunya lagi khas Indonesia.
Di sisi lain, jika hal ini diapologikan sebagai jalan dialog atas perubahan, maka persoalannya adalah, bagaimanakah strategi dialog atas kepalsuan yang terlalu masif ini? Menilik ini, saya justru tertarik untuk menjadi eksentrik kembali: menggelorakan melankolia alam ala Rosseau yang ditertawakan banyak orang, atau mengurai kembali sentimen kepemilikan ala Marx ketika Marx sendiri tidak mendapat apa-apa dari situ. Karena dalam dunia yang semakin silang-sengkarut ini, masih terdapat polarisasi yang terlalu kontras, bahwa Syeh Puji tidak lahir di Amerika, dan di Jawa sendiri yang ada hanya Suparman. Sedangkan Superman tetap lahir dari ibu Amerika. Maka jika kontradiksi sekontras apapun telah menjadi kewajaran, adakah jalan lain bagi Suparman untuk mengatasinya selain menjadi eksentrik seperti Rosseau, Marx, dan beberapa orang lagi di sekitar kita? Salam!
Surya Saluang
Tulisan ini dimuat dalam Jurnal Tera Sanggar Lentera, Sumenep-Madura 2008.
About this entry
You’re currently reading “Mengapa Suparman Jadi Eksentrik?,” an entry on Surya Saluang
- Telah Diterbitkan:
- November 6, 2008 / 11:42 am
- Kategori:
- Budaya
- Kaitkata:

3 Komentar
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]