Pidato Bunga-Bunga: Upaya Menelusuri Simpanan Kata Dalam Tubuh
Pidato Bunga-Bunga (selanjutnya PBB) karya Fitri Setyaningsih, telah dipentaskan di tiga kota, Jogjakarta (Kedai Kebun Forum), Solo (Taman Budaya Surakarta) dan Jakarta (Teater Utan Kayu) pada bulan April hingga Juni 2007. Kemudian melalui program hibah seni Kelola 2007 dipentaskan kembali di Medan (Taman Budaya Sumatra Utara), Padang Panjang (Gedung OUDI STSI) dan Bandung (Studio Teater STSI) di paro awal bulan November 2007.
Karya ini sepertinya tidak mengusung poros tunggal ataupun ojektifikasi tertentu di atas panggung. Apa yang disebut sebagai “pencurian fokus” tidak terjadi disini. Atau tidak ada fokus yang lebih di atas lainnya. Semua bloking cenderung sepadan baik energi maupun porsi permainan. Lebih jauh lagi, tuturan plot permainan sudah tidak bisa ditentukan manakah awal dan manakah akhir. Kecuali hanya karena keterjebakan kita pada waktu di luar panggung yang linear maka bisa saja kita katakan bahwa yang awal adalah ketika pertunjukan dimulai. Tetapi sebagai keutuhan karya yang harus dibaca, PBB seperti tidak menawarkan linearitas demikian. Apalagi ketika kosa gerak yang ditampilkan sebagian besar tidak stereotip sebagai tari. Kecuali pada bagian ending, gerak berjalan jinjit yang identik dengan Jawa.
Pada awalnya empat orang penari berdiri dalam posisi yang memenuhi unsur perspektif simetris. Dua di ujung kanan depan dan kiri, satu di tengah dan satunya lagi sedikit ke belakang. Seakan Fitri sedang menggambar sudut perspektif yang diajarkan ibu guru ketika SD. Sudut pandang demikian memberi jeda yang cukup kepada mata untuk dapat menangkupkan totalitas ruang di dalam kepala.
Perlahan dan satu-persatu dari empat penari mulai berjatuhan silih-berganti dan semakin cepat. Kosmos ruang pertunjukan mulai terbangun. Jatuh ke lantai dan berdiri kembali. Ada suara dari tubuh yang menyentuh lantai, berjalin kelindan harmonis dengan ilustrasi musik garapan Leon DeLorenzo.
Dalam pementasan di Jogjakarta dan Solo, aspek atas-bawah ini menjadi lebih tegas dengan adanya kotak hitam yang terbuat dari kain yang membungkus area penonton hingga panggung. Kotak ini mewadahi, menaungi seperti langit dan menerakan dinding seakan sebuah gua. Tingginya di panggung sekitar 2,5 – 3,5 meter. Di Solo, Afrizal Malna (artistik) memberi sebutan kotak ini sebagai “Gereja Hitam”.
Aspek dramatik terpantul dari tekanan jatuhnya penari, pun seketika bangunnya. Gerak itu mengetuk-ngetuk dinding wadah pertunjukan dan mempengaruhi tonjolan ruang dalam imajinasi. Ruang semakin sublim ketika tonjolan itu membekaskan dirinya sebagai nada denyut jantung. Irama yang awalnya mengalir dalam diri pemain, kini mengaliri ruang. Sedangkan pemain seakan-akan telah menjadi jantung yang sedang memompa ruang pertunjukan.
Kebanyakan gerak yang ditampilkan bernuansa biasa, profan, harian, namun yang menarik adalah intensitasnya. Dengan intensitas yang tidak kurang dan juga tidak berlebih, dalam penempatan energi yang sepadan, gerak sebiasa apapun ternyata mampu mempengaruhi persepsi. Bentuk tidak lagi menjadi unsur satu-satunya untuk menjamin kekuatan penyampaian.
Dalam gerak yang profan, tidak ada monumen yang mengharuskan persepsi parkir sejenak menjadi refleksi. Bentuk tidak lagi penting, persepsi justru menukik mengikuti kepada gesture gerak itu sendiri sebagai sebuah kejadian yang sedang berlangsung dengan segenap intensi dan motivasinya. Sublimasi pertunjukan dalam diri pencerap justru menjadi lebih kuat disini.
Gerak dan tubuh menjadi seperti terbuat dari kaca yang tembus pandang. Sembari menonton sebuah karya tari, imajinasi penonton seperti diransang untuk merasakan bagian-bagian tubuh yang sedang bergerak. Pergerakan persepsi yang selalu mengikuti dan mengharap kejadian selanjutnya dari gerak, membuat tubuh terurai menjadi anatomi. Ketika setiap anatomi bisa memberikan stimulus yang saling berlainan terhadap persepsi, ketika itulah setiap anatomi menjadi sesuatu yang seperti menyimpan pikiran (ide) sendiri-sendiri. Dan kita sesungguhnya sudah tidak begitu jelas, apakah akumulasi diri kita (sebagai imajinasi dan ingatan) yang sedang menghampiri tubuh ataukah memang sebaliknya, gestur dan gerak tubuh dapat menstimulus cara berpikir tertentu.
Hal ini sangat terasa ketika beberapa gerakan-gerakan kecil ditampilkan dalam irama yang intens dan otonom dari bagian tubuh yang lain (seperti pemosisian telunjuk, kerlingan mata, lentikan tangan, dsb). Sementara kostum yang membalut tubuh seperti usaha untuk memperbarui imaji anatomi yang datang entah darimana.
Kemudian para penari mulai berjalan agak cepat berputar dan saling menyilang, namun ringan, berusaha menghancurkan kembali persepsi simetris yang dibangun sebelumnya. Tubuh menjadi tiang dari ruang ketika ini, geraknya menjadi dinding dan koreografi menjadi semacam usaha bahasa yang memaparkan kerenyahan kosmos. Sedangkan musik tidak kalah kompaknya, menghadirkan bisikan prasangka yang selalu berkata, “Masuklah, semua baik-baik saja kok”. Peran musik yang mampu berpadupadan terhadap visual banyak membantu terjadinya afirmasi kesadaraan atas ruang. Bahkan di awal pertunjukan ini, dengan tampilan suara-suara minim, musik telah menjadi pengantar utama bagi penonton untuk memasuki kosmos visual yang ada. Semua ini dalam beberapa menit awal yang cukup berhasil dan melapangkan bagi jalan selanjutnya.
Suatu ketika seorang penari yang di kepala botaknya tumbuh setangkai bunga berjalan merunduk sembari menahan punggung seorang penari lain yang wajahnya menghadap langit. Tubuh mereka berdua berdempetan di punggung. Seakan menjadi satu tubuh baru yang bernama serangga. Serangga itu merayap memotong serong garis tengah lantai pertunjukan. Ia mempunyai dua kepala dan empat tangan yang terus saja memeras sesuatu tetapi tanpa menggenggam apa-apa. Satu kepala menghadap ke langit dan satunya lagi ke tanah. Anehnya, kaki serangga yang juga empat itu menjadi seperti mesin yang ditempelkan pada tubuh mereka. Kesan ini muncul mungkin karena berat beban yang ditanggung dalam posisi demikian, menyebabkan kaki tidak leluasa bergerak, menjadi kaku. Hingga pada satu sudut, serangga ini bergerak meninggi tegak dan membelah, tubuhnya menjadi dua manusia kembali. Seketika itu, gerak mereka kembali terpencar menuruti tema yang sudah berlainan.
Dalam pertunjukan ini anatomi mengemuka sebagai hal yang berdiri sendiri-sendiri atau memiliki ide-ide yang saling-silang. Tangan memiliki pikiran sendiri, begitu juga perut, kepala, telinga, jemari, dan seterusnya. Kehadiran anatomi yang otonom ini terkadang jauh lebih kuat ketimbang kehadiran tubuh seutuhnya. Misalnya terlihat ketika salah seorang penari dalam posisi pose, jarinya yang dibalut warna-warni bergerak tipis. Seakan tidak menyetujui sikap diam yang diambil oleh anatomi lainnya, jari itu seperti nyinyir berciloteh, berpidato pada anatomi lain di tubuhnya dan pada tubuh lain yang ada di sekelilingnya. Belum tuntas pidato itu dibacakan, sebuah tetangga anatomis merangkul kembali jari yang nyinyir itu dan mengajaknya untuk terlibat kembali menjadi bagian tubuh dan bersama-sama menjadi bagian dari ruang. Anatomi saling menyatu menjadi tubuh kembali, kadang terurai kembali seperti hendak lepas dari kesatuan itu.
Suatu kali seorang penari tertelungkup ringan, kepalanya melantai dengan tekukan di leher, sebelah tangan dengan jarinya bergerak-gerak, tangan yang satunya terjepit di bahu dan seperti berusaha lepas. Dua kaki menjadi pendorong gerakan setengah memutar. Seakan-akan menjadi naïf. Dalam posisi tubuh yang saling-silang itu, terkesan suatu upaya saling merebut dominasi antar berbagai anatomi secara halus. Juga bisa dilihat sebagai hilangnya koordinasi antar berbagai bagian tubuh. Tetapi ketika semua gerakan tetap terlihat dalam fungsi anatomisnya (tangan sebagai tangan, kaki sebagai kaki, kepala sebagai kepala, dst) justru muncul asumsi, bahwa sistem koordinasi anatomis mungkin merupakan hal yang juga suka berubah-ubah seperti perubahan zaman. Di lain hal, kita semakin dekat pada kondisi tubuh sebagai hal yang paling subjektif. Dan PBB seperti memanfaatkan keberadaan tubuh subjektif ini dalam diri setiap pemain untuk mendulang bahan-bahan pengkomposisian koreografis melalui persepsi sang koreografer.
Para pemain dalam PBB berasal dari bukan penari formal. Ini justru menjadi modal besar pertama yang memberi kemungkinan lain dari biasanya. Setiap penari memiliki gesture gerak yang merdeka dari pengaruh disiplin tari akademis. Koreografi seperti menjadi jembatan penyambung antar motif dan potensi pemain. Dalam beberapa bagian terdapat kesan dramaturgis dalam ploting dan bloking permainan. Seakan tercium adanya beberapa penghalusan pada beberapa bahan gerak yang tidak memadai. Kadang-kadang memang terasa, bagaimana jika bukan penari yang sedang menari. Sementara para “penari” yang bukan penari ini, terlibat dalam satir terhadap disiplin akademis tari yang sebenarnya tidak berurusan langsung dengan tubuhnya sendiri. Kecuali jika dikait-kaitkan saja dengan kenyataan tari yang menggunakan media gerak, sedang pengalaman gerak terjadi pada setiap manusia sehari-hari. Atau tari dan gerak adalah kenyataan sehari-hari. Bukankah seorang knek bis kota adalah juga seorang penari di atas bisnya, seakan demikian.
Setiap penari mampu mengukuhkan keberadaan gerak primordial. Atau kekuatan gerakan primordial menjadi lebih mudah dihadirkan. Seperti gerakan tangan menampar wajah seakan ada nyamuk, menggunting, menendang ringan sembari berjalan, memelintir jemari, atau seorang yang sedang menggoyangkan buah dadanya layaknya inang-inang Batak kalau lagi berdemonstrasi menuntut keadilan. Kesan sehari-hari tampil kuat ketika keseharian memang dipindahkan ke atas panggung dengan begitu saja. Sekaligus menjadi satir, lebih jauh justru terasa penuh teka-taki: menggunting bunga seperti robot, cara berjalan yang sinis seperti boneka barbie yang rusak engselnya, mimik bersahaja namun dengan dongakan kepala angkuh, sejurus sorotan mata sambil lalu sembari tersenyum datar, dan seterusnya.
Gerak terkesan tidak diindah-indahkan, atau memaksakan dramatika tertentu, berusaha memberi wibawa pada tubuh dan sebagainya. Ketika para penari berjalan serentak menggunakan dengkul, suasananya menjadi karikatur, kanak-kanak dan bermain-main. Tetapi bermain-main yang menjadi milik semua. Anatomi menjadi tubuh yang berkepribadian kembali, kanak-kanak. Tetapi entah mengapa para pribadi itu berjalan menggunakan dengkul. Anak-anak sepertinya ga gitu. Semua berbaris berdempetan menghadap penonton. Ada sedikit permainan mimik dan lirikan. Ada tubuh yang bergoyang seperti pohon bambu hanya untuk menelisik tubuh yang lain. Ada tubuh yang seperti enggan berdempetan. Semua menjadi dialog tubuh yang dekat dengan dialog keseharian kita. Ketika dengkul sedikit terpeleset, pikiran kita tidak terganggu untuk menelisik konsentrasi pemain. Semua menjadi seperti menonton kewajaran diri kita sendiri.
Pengolahan detil tubuh ataupun anatomi memang menjadi poin paling menarik dalam pertunjukan ini. Ketika seorang penari menjentik setangkai bunga yang tumbuh di kepala si penari botak, sontak semua bagian tubuh si penari botak bergoyang kuat seperti kesurupan berpindah tempat ke sudut lain. Kehadiran setangkai bunga di kepala itu menjadi hidup begitu kuat, tidak lagi sekedar tempelan atau aksesoris semata. Sebuah cara cerdik untuk menghidupkan hal-hal yang berukuran kecil.
Memasuki ending, posisi pemain kembali dalam ruang perspektif simetris. Setiap posisi seperti tidak lagi saling berhubungan dengan yang lain. Setiap penari seakan sedang melakukan pertunjukan sendiri-sendiri. Ruang ini seperti menjadi ruang jeda dari segala sesuatu yang sudah terjadi. Intensitasnya pada kedalaman gerak, bukan lagi pada berbagai repetisinya. Menjadi ruang kondensasi tubuh-tubuh untuk memasuki kembali ruang kepribadian. Suatu tempat untuk transformasi kesadaran tubuh menuju kenyataan manusia yang terpenjara siklus.
Temponya sangat lambat dan berat. Hingga pada ujung setiap gerakan, para penari seakan menjadi manusia kembali, memiliki kepribadian dan postur tubuh. Satu-persatu mereka berjalan ringan menuju susunan lampu-lampu di lantai. Kecuali seorang penari yang seperti terperangkap dalam momennya sendiri, belum juga selesai meregang tubuhnya. Berurutan tiga orang penari melangkahi lampu-lampu di lantai satu-persatu. Yang dua di depan berjalan dengan cara jinjit yang biasa dipakai dalam tradisi Jawa. Kita seperti sedang melihat cuplikan tarian Bedoyo yang elektris oleh lampu-lampu. Sedangkan si kepala botak, ia berjalan membungkuk, kepala dan tangannya menjulur ke lantai. Mungkin tubuh stereotipnya sebagai manusia memang sudah berubah. Atau juga berjalan jinjit sudah menjadi hal yang melelahkan di akhir pertunjukannya. Perlahan lampu fade-out mengiringi irama gerak penari yang monoton. Gerak pun menjadi siklus.
PBB telah memperlihatkan berbagai endapan yang dikandung tubuh. Pilihannya untuk memanfaatkan tubuh-tubuh “bukan penari” dalam pertunjukan ini membuat tubuh panggung menjadi lebih dekat dengan tubuh kebanyakan. Sehingga setiap geraknya mampu menjadi sebuah kata dari suatu hal yang pernah kita alami. Suatu gramatika yang mungkin selama ini mengalasi (baca: membentuk) mimpi dan fantasi kita dalam menjalani hidup.
Dalam perjalanan pentas keliling yang kedua melalui hibah seni Kelola 2007, (Medan, Padang Panjang dan Bandung) latar area pertunjukan berubah warna menjadi biru. Warna biru ini seperti lebih sesuai dengan semangat PBB ketimbang warna hitam yang sering mendominasi di berbagai gedung pertunjukan. Dan PBB semakin memaksimalkan pengalaman pementasannya, dengan modalitas yang juga semakin lumayan. Selain sedikit perubahan artistik panggung, tentunya pertautan kreatif karya itu sendiri dengan khalayak yang lebih luas, wacana yang semakin beragam.
***
Di setiap kota PBB dipentaskan 2 kali, kecuali di Padang Panjang hanya satu kali. Di setiap kota juga diadakan diskusi satu kali, dan kecuali di Padang Panjang justru diskusi dilakukan sebanyak 2 kali, dan di Yogyakarta tanpa diskusi. Total pertunjukan menjadi 11 kali dan total diskusi menjadi 6 kali. Setiap sesi diskusi disertai oleh seorang pembicara. Di Solo oleh Slamet Gundono, Jakarta oleh Melati Sulistyorini beserta saya, Medan oleh S. Suwarsono, Padang Panjang oleh Indra Utama dan Bandung oleh Benny Yohanes. Perputaran karya ke berbagai tempat dengan disertai diskusi-diskusi ini menjadi suatu perjalanan yang cukup mengayakan tentunya bagi Fitri Setyaningsih dan tim. Selain juga sebagai sensus kecil-kecilan tentang perputaran wacana kreatif dunia tari Indonesia. Disini dipaparkan beberapa yang perlu dari berbagai diskusi itu, sejauh penangkapan saja.
Di Solo, diskusi melibatkan banyak para akademisi dari STSI serta para penari setempat. Namun disayangkan perspektif diskusi tidak begitu berkembang. Suasananya cukup alot dan berputar di tempat. Hal yang terungkap masih seputar upaya pendefenisian tari secara formal, serta kegelisahan aras wacana yang terkesan saling berebut menempati posisi justifikasi paling layak. Beberapa tanggapan lain berusaha lebih arif terhadap perkembangan dunia kreatif saat ini dan lebih siap menerima berbagai ketakterdugaan. Dan ada pula yang menyoalkan maksud serta tawaran karya ini, menurutnya, berkat ketidakjelasan representasional yang dihadapinya, tentang kosa gerak dalam PBB. Persoalan pembacaan terkesan konvensional. Terkadang suasana justru menjadi seperti situasi mempertahankan karya tugas akhir di hadapan para penguji.
Sedangkan bagi tim PBB sendiri, maksud diadakannya diskusi tidak dalam rangka mempersoalkan karya yang baru saja ditonton, tetapi sebagai wadah mempersoalkan perkembangan tari umumnya. Dan kehadiran karya ini lebih sebagai pemantik saja. Tetapi sebagaimana dipahami bersama, memang rentan terjadi seakan-akan penyidangan ataupun kurasi instan di berbagai diskusi usai pertunjukan.
Di Jakarta (Utan Kayu) diskusi berkembang kepada hal-hal yang cukup mendasar. Satu hal yang kuat mengemuka adalah persoalan metode penggarapan karya. Bagaimanakah sang koreografer melakukan penetapan gerak beserta komposisinya sebagai hal yang layak dipresentasikan. Dalam kata lain, bagaimana si koreografer menetapkan bahwa karya tersebut dapat dibaca. Baik sebagai komposisi maupun lebih jauh lagi. Pertanyaan ini jelas lebih merangkum banyak hal ketimbang menanyakan maksud pementasan. Hal ini menjadi pertanyaan serius karena bahan-bahan yang dipakai dalam PBB cukup tidak biasa dalam dunia tari Indonesia. Dalam kata lain belum ada referensinya.
Di sisi lain (menurut hemat penulis) agar sang koreografer tidak cepat merasa nyaman dalam keterjebakan penggarapan yang belum termediasi oleh kognisi. Karena proses penciptaan seni yang basisnya ada pada intuisi, terkadang memang sulit diturunkan seketika menjadi kognisi. Bukan berarti tidak ada metode yang jelas disini, hanya saja butuh waktu untuk menurunkan rangkaian intuisi yang berserakan itu menjadi kognisi yang sistematis sehingga dapat dibicarakan. Dan Fitri memang terlambat menyusunnya, sehingga jawaban yang diberikan tidak tuntas. Namun terlambat masih lebih baik ketimbang keenakan untuk tidak terlibat dengan kognisi dan mencari apologi yang tidak mengena.
Pertanyaan tadi menjadi terurai kembali dalam banyak cara pada putaran perjalanan PBB yang kedua (November 2007). Dan pada putaran kedua ini, Fitri maupun para penari juga sudah lebih siap secara pewacanaan verbal. Berbagai hal yang selama ini masih rumit makin terurai. Baik Fitri maupun para penari berdiskusi dengan bahasa oral masing-masing yang khas. Berbagai modus penalaran beserta pembahasaan oral terus terjadi dan berkembang. Para penari juga semakin bisa memaknai ungkapan “saya menari tetapi saya bukan penari”, baik sebagai pengalaman maupun tendensi politisnya ke dunia tari Indonesia.
Di Medan dari keterangan para penari, diskusi lebih mengarah ke pengolahan wacana sesuai kebutuhan setempat. Sering dipertanyakan persoalan gagasan dan koherensinya dalam penggarapan. Aspek-aspek artistik, dramaturgi tari, representasi dan bentuk-bentuk.
Di Padang Panjang persoalan menjadi berputar, juga menjadi lebih kompleks. Beberapa audiens mempertanyakan dengan rasa keheranan, apa yang membuat Fitri berubah drastis dalam karya? Sebelumnya bagi mereka Fitri dikenal dekat dengan dunia tradisi. Terendus juga upaya untuk membongkar keberadaan Afrizal Malna di belakang proses kreatif Fitri. Afrizal ikut memberi penjelasan panjang lebar tentang keterlibatannya. Memang di Padang Panjang, Fitri maupun Afrizal seperti sedang melakukan reuni dengan teman-teman lama atau juga orang-orang yang pernah bertegur-sua entah dimana, sepertinya begitu.
Sementara dari para akademisi tari STSI Padang Panjang mengulas tentang perkembangan gagasan dalam dunia tari di tingkat lokal. Hal perubahan ini sulit dan juga belum perlu karena situasi sosial masyarakat yang belum siap dan belum merasa perlu untuk itu. Bukan berarti gagasan baru tidak penting, namun cukup menjadi pembanding terlebih dahulu atas berbagai kemungkinan kreasi. Tidak perlu ada upaya mendadak untuk berbagai perubahan. Hal ini terungkap pada diskusi pagi hari yang sepenuhnya dikhususkan untuk jurusan tari.
Diskusi usai pementasan di malam hari diikuti oleh banyak pihak tidak hanya tari. Disini gagasan maupun cetusan perspektif terlontar dalam berbagai cara yang beragam. Namun masih dalam modus antara soal-soal menerima kebaruan atau tidak, antara paradigma perubahan atau pengembangan, bertahan dari ide luar atau mengolah ide yang datang dari luar. Juga sedikit persoalan konseptual karya, hingga konsistensi para penari sendiri. Sebuah pertanyaan dialektik muncul, apakah para penari merasa dirinya memang sedang menari dalam pertunjukan mereka. Karena para penari PBB bukan penari dalam arti akademis, mereka menjawab sejauh yang mereka rasakan demikian: mereka memang menari. Pertanyaan tadi justru menjadi penjelas batasan antara wacana akademis dan wacana pengalaman yang silang-menyilang dalam diskusi ini. Sebuah cara bertanya yang mengandaikan jawaban jujur dan terbuka sekaligus memperterang keberadaan masing-masing.
Anulir gagasan kemudian menjadi lebih tuntas sesampainya di Bandung, yang merupakan ajang terakhir pementasan PBB. Pihak STSI Bandung mengajak semua civitas akademiknya untuk kembali berintrospeksi mengenai perkembangan kesenian di Indonesia khususnya dalam institusi formal. Menyangkut tari, pementasan PBB merupakan masukan yang berarti buat mereka.
Dari banyak diskusi, aspek pewacanaan dan perspektif yang merangkul berbagai keunikan kreasi kiranya belum menjadi kebiasaan dalam dunia tari. Banyak pengandaian yang berujung pada kekakuan idealisme. Perspektif yang sering memberatkan adalah bagaimana membaca yang bukan bacaan dan menulis dari bukan huruf. Atau bagaimana mengembangkan cara baca dan cara menulis dari hal-hal yang sebelumnya tak terkira. Di titik inilah PBB menjadi karya yang sulit dicerna.
Surya Saluang
Tulisan ini salah satu catatan dalam riset mengenai
tari kontemporer Indonesia
About this entry
You’re currently reading “Pidato Bunga-Bunga: Upaya Menelusuri Simpanan Kata Dalam Tubuh,” an entry on Surya Saluang
- Telah Diterbitkan:
- November 6, 2008 / 11:55 am
- Kategori:
- Seni
- Kaitkata:


No comments yet
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]