Ngobrolin Bangsa

Surya Saluang

Pada suatu sore, seorang teman berkebangsaan Selandia Baru berkeluh-kesah panjang-lebar mengenai beberapa kondisi yang tidak disukainya ketika pertamakali datang di Yogyakarta. Salah satunya adalah soal kualitas pelayanan toko di sepanjang jalan Malioboro. Ia tidak dapat percaya, ketika sebelum memasuki Yogya, ia telah lebih dahulu mendapatkan informasi mengenai keramahan kehidupan Malioboro baik malam maupun siang.

Awalnya ia hanya ingin melihat-lihat, kemudian tertarik untuk bertanya ini-itu. Sang pelayan pada awalnya antusias, mungkin karena tamunya orang asing dikira turis. Teman saya ini terus bertanya saja. Lama-lama si pelayan menjadi kurang antusias, hingga tak lagi acuh sama sekali. Teman saya ini tersinggung, karena ia merasa keramahan si pelayan hanya berharap pada pembelian, dan bukan karena etos kerja yang tulus.

Melanjutkan kekesalannya, teman saya ini terus bercerita soal abang becak. Menurutnya profesi satu ini adalah contoh nyata dari buruknya etos produktifitas orang Indonesia. Coba bayangkan, pintanya pada saya, dari sehari kerja seorang tukang becak menghabiskan waktu lebih banyak untuk menunggu daripada mengantarkan. Banyak waktu dihabiskan hanya untuk sedikit kerja. Seharusnya sebaliknya, sedikit waktu bisa mengerjakan banyak hal. Yang cukup mengherankan lanjutnya, mengapa banyak orang Indonesia tertarik untuk menjadi tukang becak. Dalam kata lain, mengapa banyak orang Indonesia memilih pekerjaan menjadi pemalas, dan ia mengakui menemukan banyak sekali orang pemalas di negeri ini.

Saya termangu saja, tidak ada tanggapan yang lebih berarti kecuali mendengar saja lebih dahulu. Hingga ceritanya kembali tentang pelayan, “Wajah-wajah pelayan itu seperti memelas. Tiba-tiba seperti membenci saya. Saya salah apa? Saya tidak suka cara mereka menatap saya”.

Kekesalan teman saya ini sebenarnya sama dengan kekesalan saya jika berkunjung ke banyak toko di Yogyakarta. Tetapi saya menimpali,”Ya maklumi sajalah, gaji mereka kecil. Mungkin itu yang membuat mereka kurang bersemangat kerjanya”.

Teman saya terus menimpali, ”Tapi mereka kurang sopan. Seperti sombong tapi kok wajah mereka memelas. Terkadang saya berpikir mungkin mereka belum makan pagi, jadi lemas. Saya memang curiga dengan penghasilan mereka. Walaupun saya jengkel dengan kualitas pelayanannya, tapi saya yakin mereka memang orang-orang yang selalu kesulitan dalam keuangan”. Saya baru tahu juga kalau teman saya ini bisa menaksir berapa penghasilan seseorang berdasarkan raut muka.

ngobrolin-bangsa-1


Cerita ini terjadi di akhir tahun 2007, ketika harga kedelai mulai menampakkan gejala kenaikan dan upah minimum regional Yogyakarta berada pada angka 500 ribu. Kira-kira segitu pula gaji para pelayan tokonya. Dengan penghasilan segitu, bagaimana caranya bisa mengatur keuangan hingga mencukupi makan pagi, siang dan malam. Akhirnya makan pagi digabung dengan makan siang. Bagi sebagian yang lain, semua aturan makan ini bahkan digabung menjadi satu kali makan malam saja, sedang pagi dan siang ditutupi dengan wedangan teh atau kopi saja. Cara lain dengan mengganti bahan makanan dengan yang lebih murah, nasi tiwul, nasi aking, ubi, talas dan sebagainya. Persoalan gizi buruk, busung lapar, pencurian, bunuh diri, terjadi bermula dari kesemrawutan manajemen perut ini.

Tetapi manakah yang lebih benar, orang Indonesia pemalas karena kurang makan akibat kecilnya penghasilan ataukah menjadi berpenghasilan kecil karena pemalas? Kedua hal ini setara. Keduanya bisa jadi berjalan beriringan mesra dan saling menguatkan. Hanya saja jika kemalasan yang mendahului, maka ini adalah sebuah ancaman besar mungkin melebihi ancaman korupsi. Seperti kata teman saya menutup kekesalannya, jika kemalasan tidak dituntaskan secepat mungkin, Indonesia sedang menunggu kehancuran dalam sesaat.

Adakah budaya kita mengajarkan mengenai etos kerja yang baik. Adalah orang Jawa sebagai populasi terbesar di negeri ini dikenal sebagai manusia yang ulet menghadapi tanah seterjal apapun. Pertanian adalah andalannya dan menjadi basis berjalannya ekonomi Jawa. Orang Bugis dikenal dengan budaya penjelahannya ke berbagai wilayah yang menjanjikan. Gelombang laut adalah teman lama bagi keberanian mereka. Orang Madura dengan kultur paternalistik yang kuat dikenal dengan kemauan mereka untuk bekerja keras tanpa pandang bulu. Orang Minang dikenal dengan dunia dagangnya yang kuat, bagi mereka, ketekunan dan ketatnya perhitungan menjadi kunci sukses usaha yang dimulai dari nol.

Semua budaya pekerja (bukan budaya kerja) ini dihidupi oleh alam pikir geografis masing-masing. Ketika penyeragaman dan sistematisasi kehidupan modern merambah kehidupan kita melalui pemerintah dan arus modal, berbagai bentuk kehidupan geografis ini terganggu siklusnya. Orang-orang menjadi bingung dengan perubahan situasi. Penghasilan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada apa yang telah dikerjakan, tetapi juga terpengaruh oleh berbagai standarisasi yang datang dari dunia lain. Misalnya saja status pendidikan, apakah cuma tingkat SLTA, S1 atau professor, semua ini mempengaruhi tingkat gaji. Berbagai teori primordial mengenai pendapatan tidak lagi berlaku.

Bagaimana dengan penarik becak? Sebuah bidang pekerjaan temuan bangsa Indonesia. Saat ini menjadi cerminan betapa problematiknya situasi produktifitas bangsa. Di satu sisi pekerjaan ini memang tidaklah produktif. Di sisi lain, para tukang becak seperti tidak memiliki pilihan lain.

Bagi kebanyakan orang, modernisasi Indonesia tidak memudahkan persoalan bahkan semakin memperumit. Hanya sedikit orang yang bisa memperoleh kesempatan lebih baik, akibat pendidikan yang cukup, dapat bersaing dalam pasar tenaga kerja yang sangat terbatas.

Kebanyakan orang kemudian mengandalkan sistem mata pencariannya pada tradisi, berpegang pada struktur ekonomi keluarga. Tanah (lahan tani) menjadi aset sekaligus penanda utama bagi berjalannya motif-motif ekonomi demikian. Kenyataannya, berbagai kepentingan negara serta modal terus menekan agar tanah dapat dikuasai oleh pihak lain melalui cara-cara dimana propaganda modernisasi dan kemajuan berada di belakangnya.

Akhirnya terlalu banyak keluarga di Indonesia yang bertahan hidup hanya dari mengandalkan kerja satu orang dari anggota keluarga. Aset keluarga telah hilang, sementara lowongan kerja terbatas. Kita mungkin masih berat hati untuk dikatakan sebagai bangsa yang pemalas, atas berbagai alasan yang demikian kompleks. Namun kita tidak bisa mengelak, banyak bagian dalam sistematika hidup kita saat ini samasekali tidak produktif.

Sedangkan pemerintah semenjak era orde baru hingga hari ini masih bersemangat pada angka-angka statistik yang diajarkan oleh ilmu ekonomi barat sebagai reperesentasi sistematika ekonomi modern. Negara gagal menjelaskan logika pembangunan sebagai hal yang konkrit di lapangan. Masyarakat tidak mengerti maksud dari angka-angka statistik yang dikeluarkan pemerintah sebagai laporan ekonomi dan berbagai laporan lainnya. Masyarakat juga tidak paham dengan maksud kebijakan ini-itu menyangkut ekonomi. Realitas kemajuan ekonomi menjadi fiktif bagi masyarakat banyak. Karena masyarakat mengukur kemajuan ekonomi dari sejauhmana mereka mampu membeli beras dan minyak goreng.

Sementara pemerintah masih saja getol menciptakan ironi. Berbagai lahan ekonomi rakyat yang sudah kudung jadi (pasar tradisional, kaki lima, dsb) digusur hanya demi keindahan visual kota. Sementara lowongan pekerjaan tidak pernah berhasil ditambah. Pemerintah tidak memperlihatkan pertanggungjawaban setimpal, sekaligus congkak tidak mau mengakui kegagalannya menciptakan lapangan kerja. Inilah sebuah negara yang aneh, ketika produktifitas yang tumbuh dalam masyarakat justru dihancurkan oleh pemerintahnya sendiri.

Negara (pemerintah) seperti tidak berpihak untuk mengembangkan etos budaya kerja bangsanya sendiri. Berbagai kasus pencaplokan lahan serta penggusuran sentra ekonomi rakyat oleh negara atas nama kepentingan pembangunan terus saja terjadi. Tidak ada rasa malu, tidak ada pertanggungjawaban. Padahal produktifitas bangsa Indonesia masih berhubungan erat dengan faktor geografis dan primordial ini. Bagaimanakah pemerintah menjelaskan hasil-hasil kebijakannya dalam pengusuran, pencaplokan lahan, pembangunan pabrik di atas lahan pertanian dan seterusnya?

Rakyat juga terkesan terlalu pasrah pada pemerintah. Sikap ini seharusnya diubah, karena pemerintah bukanlah utusan Tuhan sebagaimana di masa raja-raja dahulu. Lemahnya pengawasan rakyat terhadap arus kebijakan dan politik pemerintah merupakan awal dari semua ini. Rakyat cenderung tidak membedakan, lebih jauh tidak konsisten mencermati, manakah pemimpin yang hanya menyelenggarakan penjarahan sistematik dan manakah yang benar-benar bijak. Hanya dengan sedikit propaganda media massa, seorang koruptor kembali menjadi malaikat baik di negeri ini. Bagaimana bisa berharap banyak dalam logika yang sakit begini?

Lebih jauh, setiap individu mesti berpikir menghidupi diri sendiri dan jangan keenakan bergantung hidup pada seorang anggota keluarga semata. Harga diri bangsa dan negara Indonesia hanya tinggal pada hal yang terakhir ini, atas nama setiap individu dalam setiap keluarga.

Kapan-kapan, semoga saya tidak merah telinga lagi pada orang asing yang bertandang ke rumah saya. Kapan ya?

ngobrolin-bangsa


About this entry