Sekolah Pesawahan di Puncak Bukit

Surya Saluang

Para siswa duduk di lantai mendengar ulasan para guru tentang pelajaran, hasil ujian, angan-angan bersama, dan yang paling penting tentang hari libur. Namun, walau hari libur sepertinya paling penting, antusiasme mereka biasa saja ketika guru menyebut jadwal libur, mungkin karena terlalu pendek, atau juga libur justru akan makin tidak menyenangkan. Libur saat ini selalu berkonotasi biaya lebih, mungkin mereka merasakan itu. Dan libur mereka, berarti pulang ke rumah dan menghadapi gurat wajah orang tua yang menabung banyak masalah.

Perempuan dan laki duduk dalam kumpulan terpisah. Perhatian saya kemudian tertuju pada kumpulan laki-laki, dalam balutan baju seragam, ternyata sisiran dan model rambut mereka juga seragam. Saya tidak tahu, apakah rambut yang seragam, model Kangen Band itu memang merupakan peraturan sekolah sebagaimana baju seragam.

Desa Pesawahan tidak begitu mudah ditempuh. Dari segi geografis, mungkin Pesawahan boleh disebut sebagai desa sebenarnya untuk zaman sekarang, ketika banyak penampakan desa yang sudah berubah seperti kota dengan jalan-jalan aspal yang mulus dan diselingi oleh toko-toko ala mart. Kondisi geografis tentu berpengaruh pada perubahan-perubahan. Di pesawahan, motor-motor Jepang disulap menjadi motor trail, seperti kuda. Kendala jalan dan tanah yang berbukit, transportasi menjadi tidak mudah. Pada titik ini, banyak yang enggan datang ke tempat ini.

Jika dikira-kira, perubahan yang terjadi di desa Pesawahan bisa berasal dari jalur lain. Memasuki desa, kita bisa lihat beberapa parabola yang nongkrong di halaman rumah-rumah kecil itu. Di suatu rumah, sebuah parabola berwarna putih berdiri berdampingan dengan sebuah parabola yang penuh karatan. Selama hidup, baru kali ini saya melihat parabola karatan. Imajinasi menjadi terarah pada menghitung waktu, kronologis, dan perubahan-perubahan, antara parabola karatan sebagai yang lebih duluan daripada parabola putih. Sejak kapan parabola masuk di pesawahan?

Dari itu, mungkin bisa diinventarisir, bahwa parabola telah menjadi pintu utama orang-orang sekitar Pesawahan untuk mengintip dunia. Ini bagus untuk wawasan dan ruang referensial dalam dunia informasi ini. Namun wawasan dan ruang referensial itu juga butuh untuk ditonton, tidak hanya melihat, agar otentisitasnya terasa. Dalam kata lain, kemampuan melihat objek yang baik tentu akan berefleksi pada keinginan untuk menjadi tontonan yang baik pula. Namun siapakah yang berminat menonton masyarakat Pesawahan? Menonton resistensi rambut “Kangen” di pedesaan?

Teater Orang Udik Memaknai Globalisasi

Sebentar kita tinggalkan Pesawahan. Pada sekitar tahun 2004, saya bersama beberapa kawan teater mencoba mengolah pertunjukan bertema urban, modern, juga postmo, yang dirangkai dari bahan-bahan urban. Tubuh kami menjadi salah satu bagian dari bahan-bahan itu, seperti plastik, besi, kaca, listrik, imajinasi, tuturan, tulisan, kertas, semen, matras, dan banyak lagi. Semua bahan itu diolah, dirangkaikan dalam satu bentuk pertunjukan. Diantara semua bahan, ternyata bahan yang bernama tubuh menjadi yang paling tidak konteks dengan bahan-bahan lainnya. Tubuh ternyata bahan yang paling keras, lebih keras daripada besi, plastik, tuturan, imajinasi. Dalam berbagai pertunjukan dengan tema demikian, tubuh selalu menjadi titik kegagalan, sehingga tema-tema diatas gagal ditampilkan melalui tubuh.

Sebelah kanan, rambut keriting yang dipaksa "Kangen" (Berkumpul saling membandingkan isi rapor)

Sebelah kanan, rambut keriting yang dipaksa "Kangen" (Berkumpul saling membandingkan isi rapor)

Contoh dari kegagalan ini, dalam satu pertunjukan seorang kawan dibebankan dengan peran sebagai manusia kota. Namun kenyataan, dalam pertunjukan tetap saja yang nampak adalah manusia desa, sesuai kenyataan sehari-hari si aktor. Padahal si aktor telah dilengkapi dengan properti, kostum dan dialog yang mencirikan kota. Lebih parah dalam bangunan struktur pertunjukan, sering terjadi ada bentuk tanpa struktur yang koheren. Pertunjukan akhirnya hanya menjadi alur pameran dari kebingungan dalam pengertian yang sesungguhnya. Bentuk mendahului struktur. Gramatika diada-adakan sedemikian rupa, biar terkesan nyambung. Hasilnya teater justru semakin susah dimengerti apa mau dan maksudnya.

Kegagalan membangun bentuk tubuh dan struktur dalam teater banyak terjadi saat ini. Sebagaimana makin rancunya struktur tubuh dan ruang sosial dalam pertumbuhan bentuk-bentuk realitas yang melingkupinya. Teater kehilangan asal mulanya, kehilangan tema untuk memulai cerita, kehilangan rupa untuk memulai cahaya.

Hal teknis, seperti latihan dan prinsip-prinsi dramaturgi yang dianggap sebagai kodifikasi (resmi), ternyata tak mampu menjelaskan gejala kegagalan itu. Sementara teater yang hanya menampilkan benda-benda juga belum mampu dikhlaskan oleh audiens. Maka tubuh harus dibongkar lebih serius lagi, kodifikasi harus dicurigai, antara struktur dan gramatika harus bisa dijelaskan, jika teater memang masih bergantung pada tubuh.

Teater dalam suatu cara yang lain merupakan resistensi atas realitas. Bagi saya, rambut “Kangen” Pesawahan juga demikian. Namun “teater” Pesawahan menjadi teater orang udik dalam memaknai globalisasi. Sama seperti saya dan kawan-kawan di tahun 2004 itu, teater Pesawahan dipenuhi keluguan dalam merangkai tema dan kejadian. Bentuk mendahului struktur, tidak penting apa hubungannya atas gramatika yang ada. Atau malah gramatika itu sudah tidak perlu. Maka stereotip juga tidak akan diperlukan lagi, semua bisa berjalan serentak begitu saja.

Sebagaimana yang pernah kami rasakan (mungkin begitu juga orang-orang Pesawahan), sederhanya resistensi ini terjadi dalam rangka keinginan untuk tidak menjadi ndeso dengan segala statuta yang dilekatkan pada kata itu, dalam dunia yang bergerak cepat ini. Kami serius, ingin menanggapi globalisasi, terlibat di dalamnya, menjadi bagian, menjadi pemain dalam mainan baru itu. Maka kesadaran harus dibuka dan disiapkan untuk berkompetisi dalam permainan baru. Kenyataannya, usaha resistensi begini dalam cara pandang lain justru menjadi pembuktian akan ndeso itu sendiri, ketidakmampuan untuk terlibat dalam globalisasi. Antara kedua cara pandang yang sama melihat itu, hanya dibatasi oleh tulang hidung.

Maka usaha resistensi harus dipolakan sebagai upaya menentukan modus individual dan kolektif yang benar-benar terjadi dalam aras sosial. Hal ini menjadi seperti membuka kesadaran kolektif dan melakukan reposisi individual (Aku Dalam Budaya, Toety Heraty, 198..). Kami melakukan resistensi melalui teater di Yogyakarta, kota yang berhawa desa. Sementara orang-orang Pesawahan melakukan resistensi dalam desa yang berhawa tanah. Tema resistensi ndeso kami itu bisa jadi lain dalam konteks Pesawahan.

Dalam teater orang udik memaknai globalisasi itu, antara tubuh dan bahan lain masih membawa stereotip, namun stereotipnya saling menindih dengan benda-benda mati di sekitarnya. Ketika benda bisa menindih tubuh, tiba-tiba saja benda itu menjadi hidup dan tubuh mengalami kematian. Dan tidak pernah tercipta kesepadanan bahwa keduanya sama-sama hidup dalam panggung kami. Sementara dalam kenyataan, keberlanjutan hidup kita ditopang oleh benda-benda mati itu, yang membuat nyawa menjadi lebih awet.

Di Pesawahan, tubuh bergerak dalam mekanisme menghadapi tanah, bukan aspal, namun dalam balutan rambut “Kangen” yang aspal itu. Aspal di Indonesia dibuat untuk jalannya motor-motor Jepang, tapi di Pesawahan, motor-motor Jepang dengan teknologi aspal itu dipaksa memahami tanah mereka. Pemuda-pemuda Pesawahan kemudian mengendarai motor itu dengan obsesif, motor itu menjadi kuda kembali, hingga ban-nya sudah menjadi tanah itu sendiri.

Resistensi berarti bagaimana mengakali, sebagaimana stereotip tubuh tidak begitu saja bisa dirubah. Imajinasi lebih lentur daripada tubuh. Sementara kebutuhan tubuh lebih banyak menyita perhatian kita ketimbang kebutuhan imajinasi, apalagi secara kolektif. Tubuh lebih konservatif dengan semua standar kebutuhannya. Bahkan sebagian meniscayakannya sebagai hal yang alamiah, dan kami sepakat meragukan kealamiahan tubuh tersebut. Apakah setiap keputusan lahir dari majinasi yang independen ataukah berkat tekanan tubuh?

Ada banyak nama dalam kepala kami waktu itu, seperti Trotsky, Brook, Rendra, Artaud, hingga Nietzche, Foucault dan Derrida. Namun nama-nama itu seperti tidak berpengaruh pada tubuh kami, kecuali hanya membantu imajinasi kami dalam berangan-angan intelek. Membongkar stereotip tubuh kemudian menjadi agenda besar, yang belum selesai hingga saat ini dalam teater dan kerja banyak kawan-kawan. Ada kecurigaan, bahwa kesadaran itu berlapis-lapis, harus dibongkar hingga ke kulit tubuh, pori-pori. Dialog antar disiplin dalam teater kemudian marak.

Agraris, Ndeso, Teologi Tanah, dan Acuan Yang Sebenar Tumbuh

Keterikatan orang desa dengan tanahnya, seperti di Pesawahan, seharusnya menumbuhkan Teologi Tanah-nya sendiri. Mungkin ada banyak teologi begini sesuai konteks geografis di berbagai desa lain. Namun mata pelajaran di sekolah Pesawahan sudah mengajarkan Teologi Agraria, sesuatu yang lebih kompleks ketimbang hanya tanah, sehingga lebih canggih. Mungkin motor-motor yang seperti kuda itu sesuatu yang tumbuh dari ke-agrariaan itu. Sementara dari tanah, tumbuh alba.

Seperti motor Jepang yang berubah kuda? Siapa Bapaknya?

Teologi tanah dekat dengan siklus, pemahaman tentang bapak air dan bapak angin (Di Pesawahan ada air dan angin, tetapi apakah ada Bapaknya?) Orang-orang Pesawahan menanam alba berkat siklus hujan yang kurang. Saat ini alba diminati banyak orang, dan alba tidak membutuhkan air yang banyak. Tanam, dan tinggalkan saja tidak akan apa-apa, demikian mereka sampaikan. Kedekatan mereka dengan tanah dijembatani oleh pohon alba yang ditinggalkan itu. Tumbuhan lain membantu sedikit saja dalam kondisi lain, alba masih lebih dominan, sehingga alba berkemungkinan sebagai calon kuat untuk menjadi Bapak yang akan mengajarkan tentang tanah. Tetapi apakah calon Bapak (alba yang suka ditinggalkan ini) sama dengan motor berhawa kuda yang membawa tanah itu?

Bapak tanah, sejauh yang saya lihat dalam pengalaman yang pendek, biasanya disegani karena kesuburan tanah. Selama kesuburan masih menawarkan banyak warna, maka si Bapak tanah bakal tetap lestari. Ritual-ritual terus dilakukan untuk menghargai Bapak. Jika tidak lagi subur, maka daun tidak pernah bisa dirubah menjadi uang. Sistematika yang menyambungkan antara tanah dan dewa adalah Bapak itu sendiri, atau Teologi Tanah “mereka”, “kami”, “kita”. Siklus ini kemudian disistematisir oleh sains dan teknologi, muncullah istilah-istilah teknis seperti masa tanam, masa panen dan masa paceklik. Bapak menjadi berubah wajah dan modus. Dalam perubahan itu, si anak sebenarnya mulai cemas, seberapa jauh Bapak bisa menjelaskan masa depan. Menjelaskan masa depan berarti mimpi yang harus dirasionalisasikan. Menyangkut mimpi yang bisa rasional, semua pihak tentu akan saling berebut justifikasi, sebagai yang paling berhak atas nasib yang baik.

Seperti motor berhawa kuda, seperti rambut “Kangen” dalam mekanika tubuh desa, dan tanah yang menjadi teknis, atau juga tanah yang terlalu canggih, hanya untuk sekedar menanam alba, adakah sesuatu yang masih bisa diacu dari dunia seperti itu? Dunia seperti itu lebih mirip sebagai dunia mencari Bapak. Paradigma yang saling berebut untuk ditonton dan dibicarakan: sistematika akademis, efisiensi, tren, teknologi (teknik), uang, nasib, waktu, dan lainnya yang mungkin muncul.

Dunia mencari Bapak ini mungkin banyak terjadi juga dalam dunia agraris lainnya, yang akhirnya kehilangan cara berdoa pada dewa beserta cara memaknai kesuburan. Dalam konteks Pesawahan, soal mencari Bapak terlihat sekali sedang berada dalam ketegangan: antara Alba yang tumbuh di ladang, ataukah parabola yang tumbuh di halaman-halaman rumah.

Parabola berhasil menjelaskan, bahwa kecepatan dan efisiensi seperti motor, mampu merubah keadaan, tidak semua menjadi tidak mungkin seperti Kangen Band yang berasal dari penjaja makanan keliling. Sementara kenyataan, kehidupan mereka dapat berlanjut berkat gegap gempita agraris yang bisa dipertahankan, berkat alba, mungkin lain waktu akan ada kopi, ayam, bebek dan lainnya. Sejauhmana alba dan kawan-kawannya itu dapat menyediakan jalan bagi rasionalisasi mimpi? Sementara kepercayaan pada dewa yang memegang masa depan dibangun dengan alas rasionalisasi mimpi-mimpi. Atau juga, perlukah mimpi dikontekstualisasikan? Mimpi rekaan yang sama saja dengan membohongi diri sendiri.

Ketegangan seperti ini tentunya bisa menimbulkan frustrasi, jika masyarakat masih mengandaikan berbagai perubahan sebagai suatu resistensi atas perkembangan keadaan dalam cara mereka, namun tanpa mampu mengemukakan rasionalisasinya terhadap mimpi-mimpi mereka. Sejauhmana mimpi bisa dijejerkan ke permukaan. Masyarakat yang layak ditonton biasanya karena mimpi-mimpi yang masih dijaga. Jika paduan parabola dan alba justru mengacaukan mimpi, maka modusnya harus ditata kembali agar enak ditonton, sehingga memenuhi harapan mereka untuk diperlakukan sebagai aktor (subjek) yang indah.

Namun bisa juga menjadi masyarakat tuna acuan bahkan, jika resistensi sebenarnya sudah tidak ada lagi, masyarakat yang kehilangan mimpi-mimpi. Pada yang terakhir ini, sebenarnya perjuangan sudah tidak menyenangkan lagi. Kepedulian tidak jelas sedang mengarah kemana. Sehingga tontonan itu menjadi dekaden dalam perubahan-perubahannya, menjalani hidup dengan seadanya. Dalam kata lain, apa yang disebut perjuangan jangan-jangan hanya menjadi jalan dari ketiadaan pilihan dalam rasionalisasi mereka. Seharusnya perjuangan menghasilkan kegembiraan dan cetusan-cetusan romantik menyangkut kenyataan empirik yang dilewati, yang menghasilkan Teologi Tanah mereka, menghidupkan puja-puji pada dewa, ritual yang silih berganti beriring siklus. Hal terakhir inilah yang harus dibongkar dan kita saksikan dengan mata kepala, bukan dengan mata teknis (sains dan tekonologi) saja. Untuk bisa melihat dengan mata kepala, kita perlu belajar melepaskan segalanya yang melekat di kepala kecuali mata. Dalam teater yang fiksi, upaya terakhir ini terbukti paling berat dilakukan, bukan panggung, bukan gramatika, tetapi membuang bagian-bagian yang selama ini membangun diri sendiri.

Sekolah Pesawahan berada di puncak bukit, dekat dengan langit, wahyu, matahari, bulan dan bintang, juga warna biru, jingga dan hitam, dan semua itu bukan fiksi. Orang-orang di puncak ini juga sangat bisa melihat dunia di bawahnya dengan leluasa, sebagai titik-titik kecil, dalam jarak yang sangat pendek. Sehingga sekolah dan orang-orang Pesawahan akan sangat mungkin untuk bersikutat mengurusi mimpi-mimpi yang disusun dari benda-benda di langit yang tanpa batas itu untuk diolah di bumi yang kecil dan pendek ini.

(baca juga: Mengapa Suparman Jadi Eksentrik, dalam http://suryasaluang.wordpress.com).


About this entry